Nemu Candi

Baru tahu ada candi di daerah baratnya sekolahan. Duhh. .

Ini gara-gara mau ngambil titipan salep di apotek Astu Pedan, klau gak mungkin saya gak bakal “ngeh” kalau di sini ada candi.

DSCN4223Di pinggir jalan, ada plakat terpampang tulisan “Candi Untoroyono”. Awalnya agak ragu. Itu beneran candi apa gak ya? Malah kepikiran kalau itu cuma nama desa. Tapi setelah memastikan, saya tanya sama bapak-bapak warga di situ. Ternyata emang ada candi.

Karena bener-bener penasaran, kok bisa ada candi di daerah Kalangan Juwiring, akhirnya saya nekat sendirian masuk ke sana. Dan ternyata. Jeng Jengggg!!

Emang candi sih. Tapi kok kaya pura yak?

Usut punya usut, katanya bapak siapa ya *mikir* lupa saya namanya. Ini emang beneran candi.

2014-12-08 16.08.35

Kata Bapaknya, Candi ini dibangun sekitar tahun 2003 kalau gak 2007. Ini lupa-lupa ingat ini. Hehe. Asal-usul pembangunan candi ini karena katanya memang tanah di situ agak “tanda kutip”. Katanya dulu tanah di situ mau didirikan masjid. Tapi entah kenapa malah ndak jadi. Juga cerita dari warga sekitar, hewan ternak yang makan rerumputan di situ pasti mati. Brrrrrr. .

Katanya pendirian candi ini sudah melalui berbagai tahap ritual-ritual yang di adakan di beberapa candi seperti prambanan, sambisari dan candi sukuh.

Katanya juga Candi Untoroyono ini juga penyempurnaan dari candi-candi Hindu yang lain. Karena biasanya di candi-candi Hindu yang ada di Indonesia ini, lingga dan yoni terpisah. Di Candi Untoroyono ini lingga dan yoni sudah menyatu. Usut punya usut itu lingga dan yoni, katanya didatangkan langsung dari India oleh Maharesi *saya lupa lagi namanya* ^_^

Advertisements

Kangen Candi Ijo yang Berselimut Kabut. .

Hari ini hawa-hawanya bikin kangen sama Candi Ijo. Dingin-dingin syahdu tralalala. Duhhh. . Kapan nyempetin kesana lagi ini? Hmmm

Dulu itu gak sengaja mblusuk sampai sana. Awalnya kita ke Candi Sojiwan, habis itu mau ke Ratu Boko tapi lewat jalur belakang, eeeee malah dapet Candi Barong juga. Habis itu ke Ratu Boko terus ke Candi Banyunibo, trus berakhir mblusuk ke Candi Ijo. *Cerita 3 Travelers Seharian Mblusuk Candi ini nyusul aja yak*. Pas tiba di Candi Ijo itu udah jam 5 sore. tapi hawa-hawanya kaya di pegunungan dingin-dingin syahdu gimana gitu, apa lagi pas itu berkabut lagi. Berasa kaya bukan di Jogja malah.

Recovered_JPEG Digital Camera_338

Pas kesana sama Mas Don sama NdulNdul itu cuma mampir bentaran doang. Gak sempet masuk lihat candinya, gak sempet meluk-meluk candinya, gak sempet ngelihat reliefnya, gak sempet ngepoin bapak penjaganya, soalnya udah sore banget. Keburu diusir sama Bapak penjaganya *Tear*

Info soal Candi Ijo disambung kapan-kapan aja deh. Lagi males googling, pengennya nanya langsung sama Bapak penjaganya. Tapi kapan ya kesana lagi? *mikir* Oke. Jadiin planing selanjutnya aja kalau gitu.

The Excited Traveler dan Perjalanan Tak Terduga

Ini baru nemu pas beberes file tadi. Duhhh. . ini tulisan pas jaman jahiliyah.

Entah dapet wangsit dari mana tiba-tiba aku sama Dan kepikiran buat mbelayang ke Prambanan. Mungkin emang karena kita sudah lama banget gak pergi main berdua kali ya? Kita, aku sama Dan berencana berangkat subuh-subuh dari kos, ya gak subuh-subuh juga sih, jam limaan lah. Tapi berhubung kita berdua itu termasuk dalam golongan “manusia Indonesia normal” yang gak mungkin gak telat, akhirnya kita berangkat sekitar pukul enam pagi.

Ditemani cahaya mentari pagi yang terpantul dari embun di dedaunan dan udara pagi yang masih dingin-dingin empuk menusuk tulang, kami melaju menuju candi Hindu terbesar di tanah Jawa ini. Tsaahhh…

Sesampainya di sana, setelah memarkirkan motor, dengan gaya bak wisatawan manca yang membusungkan dada dan dengan kesongongan yang tiada tara, kami berdua berjalan menuju tempat pembelian tiket.

Tiba-tiba musik horor mengalun dalam pikiran saya.

“Jeng jeng!!!!” sebuah papan tertempel di depan loket pembelian tiket benar-benar berhasil meluluhlantakkan semangat mbelayang kami.

Tulisan angka-angka nominal di papan itu benar-benar melukai hati dan perasaan kami. Kami yang hanya berbekal uang seadanya dan berbekal semangat mbelayang pun tertunduk lemas. Kasihan sekali kami.

Sekuat tenaga kami mengumpulkan kembali puing-puing semangat yang telah pecah berserakan. Akhirnya, seperti pepatah “dimana ada kemauan, di sana pasti ada jalan.” Gusti Allah melalui perantara malaikat berbisik pada kami, “Hai anak muda, janganlah kalian bergundah gulana, ingatlah bahwa ketika satu pintu tertutup, pintu lain masih terbuka lebar.”

Dengan diiringi tawa licik, kami berdua memutuskan untuk mengambil jalan belakang. Setelah berjalan kaki sejauh kurang lebih satu kilo meter (kayaknya), kami akhirnya tiba di pintu gerbang belakang. Bhahahahahaa *tertawa keren*.

Tapi mungkin memang nasib baik belum bersama kami, satu-satunya pintu penyelamat kami itu ternyata juga sudah ditutup, tersegel, terkunci rapat. Tidaakkkk!!!

Segala jurus rayuan maut dari berbagai kitab perguran senusantara yang kami keluarkan, ternyata tidak mampu meluluhlantakkan hati bapak-bapak satpam dan petugas keamanan candi supaya bisa memasukkan kami ke dalam tanpa kami harus mengeluarkan sepeser uangpun. Benar-benar…

Suara bisikan malaikat tiba-tiba terdengar lagi, “Ingatlah anak muda, dunia itu tidaklah selebar daun kelor.”

Berbekal informasi yang kami dapatkan dari Pak petugas keamanan, kami pun segera bergegas menuju salah satu candi yang letaknya di sebelah Timur Laut Prambanan. Sebuah candi dengan corak Hindu-Budha, Candi Plaosan.

Selain kompleks percandian yang terbagi menjadi dua, Plaosan Lor dan Plaosan Kidul, Candi Plaosan juga memiliki corak dan cerita dari dua agama besar sebelum Islam masuk ke Indonesia, Hindu dan Budha. Dan yang paling penting selain viewnya bagus buat foto-foto, harga tiket masuknya juga bagus kok. ^_^

Plaosan, imajinasi absurd-romantic

Pagi tadi ketika saya menyibak korden jendela kamar, tiba-tiba sekelebat bayangan candi muncul di hadapan saya. Duhhh..

Tetiba juga saya jadi ngebayangin, gimana kalau di depan rumah saya itu berdiri bangunan candi yang megah yang dikelilingi rerumputan hijau kaya rumput di lapangan di tipi-tipi itu hlo. Duhhh.. bisa guling-guling tiap hari.

Atau, tiba-tiba rumah saya berubah wujud jadi candi. Itu pecah. Tinggal di dalam candi. Jadi berasa hidup di jaman kerajaan dulu. Tiap hari pakai baju kemben yang dikasih blazer pakai jilbab. Kece.

Atau, tiba-tiba saya nemuin barang keramat, misal: foto. Ketika saya menatap foto yang wujudnya ala-ala foto lama kaya gitu, yang pinggiranya udah sobek-sobek, yang warnanya udah pudar, yang bau tanahnya nyengat banget. Seketika itu saya seperti tertarik ke masa lalu, saya jadi berada di dalam sebuah candi dan semua terlihat seperti di kamera lomo.

Atau, tiba-tiba ada yang ngebuatin candi buat saya, karena saking cintanya dia ke saya. Itu romantisnya pecah banget. Kaya yang dilakuin Rakai Pikatan ke Pramodyawardani, dua orang yang saling mencintai dengan latar belakang keluarga dan keyakinan yang berbeda. Rakai Pikatan yang dari keluarga Syailendra dengan agama Hindunya, dan Pramodyawardani dari keluarga Sanjaya dengan agama Budhanya. Kesungguhan cinta Rakai Pikatan itu pun terabadikan dalam bentuk candi yang dibangun di dekat kompleks Candi Prambanan, candi lambang cinta tersebut kemudian diberinama Candi Plaosan. Candi yang arsitekturnya perpaduan antara Hindu dan Budha. Cinta memang menyatukan perbedaan. Cerita cinta Rakai Pikatan ini kalau dibuat ftv back soundnya pasti pakai lagu Marcel yang Peri Cintaku. Itu pasti kece.

Duhhh. . imajinasi saya minta ampun.

IMG_0237

Ini first time saya ke Plaosan.

IMG_0137

Yang ini second time saya ke sini, dengan kaos barong yang sama seperti saat saya pertama ke sini, dan juga bersama orang yang sama. Tapi ini pas acara maen bareng temen-temen.

Ini Tentang Candi. .

#BlusukanCandi itu gak sekedar refreshing, tapi kita juga dapet ilmu. Gak cuma nambah wawasan, tapi juga nambah rasa cinta sama tanah air. Dan tambah bersyukur sama Allah SWT.

com

Dan menikmati hawa-hawa candi sambil  ngobrolin soal sejarahnya itu asyik kok. Apa lagi kalau medan ke candinya itu agak naik turun bukit atau agak blusuk ke antah brantah. Duhh. . kaya nemuin mata air kehidupan setelah hampir sekarat di tengah perjalanan. .

IMG_7850

Kalau kata mas Donny,“Menelusuri candi bagaikan menelusuri dunia yang berbeda. Dan candi itu tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata”