Tangisan Senja

Rona jingga abu-abu sudah mulai menghilang. Senja sebentar lagi berganti malam. Gadis berambut sebahu itu masih tak beranjak dari tempatnya. Ia masih berdiri terpaku memandang sisa senja yang sudah memudar.

Sudah tiga bulan ini setiap Senin sore ia mengunjungi tempat itu. Mengunjungi sebuah bukit kecil tak jauh dari rumahnya, berdiri di bawah pohon kelengkeng yang sudah lama tidak berbuah. Wajahnya selalu terlihat sendu, rambutnya yang lurus sebahu tergerai indah diterpa angin, matanya memandang jauh ke arah cakrawala senja, terkadang sesekali terlihat sapuan mendung menggantung di pelupuk matanya.

Tepat tiga bulan yang lalu, pertama kalinya ia mengunjungi tempat itu. Selama ini dia tidak pernah tahu ada tempat seindah itu di dekat rumahnya. Entah dia yang tidak memperhatikan karena baru setahun dia pindah ke wilayah itu, atau kerena dia yang terlalu sibuk menjadi anak rajin yang mangejar mimpinya menjadi presiden. Tapi Senin sore itu, pertama kalinya ia melihat tempat dengan pemandangan senja yang menakjubkan.

Masih jelas dalam ingatannya, tangan hangat yang menggandengnya, menuntun si gadis menuju pohon kelengkeng besar yang berdiri kokoh layaknya sang pengusa di wilayah itu. Masih jelas pula dalam bayangannya, senyuman khas yang menenangkan saat gadis itu merasa takut. Masih jelas pula, pertemuan mereka di wilayah yang tidak pernah ia baca tertulis dalam peta Jawa Tengah.

Angin dingin mulai menusuk ke dalam kulitnya. Tatapannya masih saja tak lepas dari sisa-sisa guratan senja di langit, air matanya mulai menetes tak terbendung. Jemarinya mencengkeram rok putih berenda selutut yang ia kenakan.

Ada kerinduan yang teramat dalam tersirat dalam tangisannya. Kerinduan akan orang yang begitu dicintainya lebih dari dirinya sendiri. Kerinduan akan sosok lelaki yang baru setahun ini mengisi hari-harinya.

Cengkeramannya semakin kuat. Tangisannya semakin pecah, hingga ia jatuh terduduk tak kuasa lagi menahan berat tubuhnya yang bergetar hebat. Terlihat jelas ada rasa kecewa pada Sang Pencipta dalam linangan air matanya, kenapa ia harus dipertemukan dengan lelaki itu jika pada akhirnya mereka dipisahkan.

Senja yang sudah menghilang, bulan sabit yang tadinya pucat sekarang mulai bersinar dalam gelap malam tanpa bintang, seakan sengaja hadir menemani Gadis itu larut dalam tangis dan beribu pertanyaan keadilan pada Tuhan.

“Senja…” sentuahan halus pada bahunya tak ia perdulikan, ia masih menangis sesenggukan.

Gadis bernama Senja itu mendongak, memandang wajah lelaki yang selama ini ia panggil dengan sebutan Abang. Senja segera berdiri dan memeluk abangnya. Tangisannya semakin menjadi.

“Iklhas, Senja. Biarkan ayah bahagia di sana.”

T_T

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s