Dari Ketela Sampai Spirulina Bersama Cahbocah Kelas 3

Hari ini saya lepas dari cahbocah kelas 1, saya diculik sama kelas 3. Duhhh. Sabar ya anak-anak ku. Baik-baiklah kalian di sekolahan yak? *pukpukpuk*

Hari ini cahbocah kelas 3 outing ke kebun ketela di daerah Ceper, Klaten. Sebenernya saya itu gak tahu kebun ketela mana yang mau mereka satroni. Saya cuma asal ngikutin Mbak Ida aja.

Sepanjang perjalanan saya cuma senyam-senyum sendiri, gara-gara dengerin percakapannya Nita sama Dita yang saya boncengin dibelakang. Dari sekolah sampai tempat tujuan mereka berdua itu gak henti-hentinya ngomong. Apa-apa dikomentarin. Orang di jalan dikomentarin, pohon di jalan dikomentarin, boneka di jalan dikomentarin, rumah di pinggir jalan dikomentarin, mobil sama motor yang nglewatin kita dikomentarin, bahkan saya juga ikut dikomentarin gara-gara saya senyum-senyum sendiri. *Tear*. Padahal saya senyum-senyum sendiri gara-gara mereka. Duhhh.

Yang bikin saya gak bisa nahan tawa adalah ketika si Dita dengan lempengnya bilang gini ke saya, “Mbak Wid ki kalo kelilipan gak boleh merem. Nanti kalo Mbak Wid merem bisa kecelakaan. Jadi Mbak Wid gak boleh merem. Tapi kalo aku yang kelilipan aku merem gak papa. Soalnya kalau aku yang merem, aku kan dibelakang, gak di depan”. Duhhh. . padahal pas itu ki, gak ada kejadian saya kelilipan. cuma tiba-tiba aja si Dita bilang kaya gitu. *tepok jidat*

Sampai kita di kebun ketela (walaupun sempet salah jalan dan ketinggalan jejak), kita cuma nemuin satu orang petani ketela. Duhhh. . padahal targetnya nyari 5 petani. Cahbocah langsung capcuss mewanwancarai Bapaknya. Dan hari ini saya baru tahu, ternyata nanem ketela itu musti dibalik daunnya, biar nanti ketelanya bisa tumbuh dengan maksimal. *baru paham saya* Ternyata gak cuma hidup yang dibolak-balik, kadang di atas kadang di bawah, tanaman ketela pun juga seperti itu.

Setelah merampok ilmu soal per-ketela-an sama Bapaknya. Juga setelah kita merampok tanaman ketela dan ketela Bapaknya. Cahbocah pun mulai mencari petani lagi. Dengan semangat hampir 45, mereka berjalan mencari Bapak/Ibu petani ketela, tapi apa daya. Kita hanya menemukan Bapak-Bapak petani cabai yang sedang duduk bersantai sambil berbincang. Okelah. Karena petani ketela sudah tak ada, maka tak ada ketela, cabai pun jadi.

Perjalanan pun berlanjut. Planning selanjutnya adalah menuju umbul. Dan saya baru tahu kalau di daerah situ ada umbul. Duhhh.. kemana aja saya selama ini? Lahir di Klaten kok gak tau. *Plak*

Tapi yang langsung menyita perhatian saya bukan umbulnya, umbulnya sih menurut saya ya kaya umbul-umbul biasanya itu. Yang menyita perhatian saya itu kok ada beberapa kincir air kecil di deket kompleks umbul itu.

karena penasaran, dan kata Mbak Ida juga, dulu pas dia ke sini itu belum ada kincir-kincir kaya gitu. Kita pun akhirnya masuk. Dan usut punya usut. Itu kompleks per-kincir air-an itu adalah tempat budidaya lumut. Tak pikir itu budidayanya kaya di Rawa Jombor itu, kan di sana juga budidaya lumut. Ternyata beda. Kalau di sini itu lumut yang dimaksud itu adalah alga (algae). Itu penjelasan dari Mas Danang dia yang punya lahan. Dan ternyata itu lumut adalah si Spirulina yang sering nongkrong di timeline di twitter itu. tapi kata Mas Danang itu Spirulina beda sama yang lain, soalnya ini Spiriluna pertama yang dibudidayakan di air tawar, jadi tidak mengandung logam berat, arsen, dan NACL. Juga tidak ada kandungan bahan kimia *Owalah, baru tahu saya*

Yang bikin saya tambah excited  lagi, ternyata, yang punya budidaya ini adalah tetangga sekecamatan sama saya. Anaknya temen Babe saya. Namanya mas Mahmud dia anaknya pak Narno (Babe saya juga Pak Narno #nahlho). lulusan Teknik Kimia UNDIP. Kantornya mas mahmud ini ternyata samping SD saya. Ckckck. Kemana aja saya?

Setelah puas mengorek-orek info soal per-alga-nan ini. Kami pun akhirnya pamit pulang ke sekolah. Wahh, hai ini dapet ketela, cabai, sama lumut.

Karena adzan sudah berkumandang sedari tadi, kami memutuskan untuk mampir sholat dhuhur di masjid. Setelah sholat dhuhur, saya baru ngeh, kalau di masjid itu ada Mas Danang, kakaknya temen saya. Duhhh..

Dan, sorenya. Pas saya ke Solo. Saya ketemu lagi sama orang yang namanya juga Danang. Salah satu temen terkece saya. Sehari ketemu tiga orang yang namanya sama-sama Danang.Duhhh..

 

 

NB: foto menyusul. Karena belum sempet ngopy dari kameranya Mbak Yul. (Padahal cuma dapet secepretan. Habis itu kamera mati gara-gara baterainya habis)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s