The Excited Traveler dan Perjalanan Tak Terduga

Ini baru nemu pas beberes file tadi. Duhhh. . ini tulisan pas jaman jahiliyah.

Entah dapet wangsit dari mana tiba-tiba aku sama Dan kepikiran buat mbelayang ke Prambanan. Mungkin emang karena kita sudah lama banget gak pergi main berdua kali ya? Kita, aku sama Dan berencana berangkat subuh-subuh dari kos, ya gak subuh-subuh juga sih, jam limaan lah. Tapi berhubung kita berdua itu termasuk dalam golongan “manusia Indonesia normal” yang gak mungkin gak telat, akhirnya kita berangkat sekitar pukul enam pagi.

Ditemani cahaya mentari pagi yang terpantul dari embun di dedaunan dan udara pagi yang masih dingin-dingin empuk menusuk tulang, kami melaju menuju candi Hindu terbesar di tanah Jawa ini. Tsaahhh…

Sesampainya di sana, setelah memarkirkan motor, dengan gaya bak wisatawan manca yang membusungkan dada dan dengan kesongongan yang tiada tara, kami berdua berjalan menuju tempat pembelian tiket.

Tiba-tiba musik horor mengalun dalam pikiran saya.

“Jeng jeng!!!!” sebuah papan tertempel di depan loket pembelian tiket benar-benar berhasil meluluhlantakkan semangat mbelayang kami.

Tulisan angka-angka nominal di papan itu benar-benar melukai hati dan perasaan kami. Kami yang hanya berbekal uang seadanya dan berbekal semangat mbelayang pun tertunduk lemas. Kasihan sekali kami.

Sekuat tenaga kami mengumpulkan kembali puing-puing semangat yang telah pecah berserakan. Akhirnya, seperti pepatah “dimana ada kemauan, di sana pasti ada jalan.” Gusti Allah melalui perantara malaikat berbisik pada kami, “Hai anak muda, janganlah kalian bergundah gulana, ingatlah bahwa ketika satu pintu tertutup, pintu lain masih terbuka lebar.”

Dengan diiringi tawa licik, kami berdua memutuskan untuk mengambil jalan belakang. Setelah berjalan kaki sejauh kurang lebih satu kilo meter (kayaknya), kami akhirnya tiba di pintu gerbang belakang. Bhahahahahaa *tertawa keren*.

Tapi mungkin memang nasib baik belum bersama kami, satu-satunya pintu penyelamat kami itu ternyata juga sudah ditutup, tersegel, terkunci rapat. Tidaakkkk!!!

Segala jurus rayuan maut dari berbagai kitab perguran senusantara yang kami keluarkan, ternyata tidak mampu meluluhlantakkan hati bapak-bapak satpam dan petugas keamanan candi supaya bisa memasukkan kami ke dalam tanpa kami harus mengeluarkan sepeser uangpun. Benar-benar…

Suara bisikan malaikat tiba-tiba terdengar lagi, “Ingatlah anak muda, dunia itu tidaklah selebar daun kelor.”

Berbekal informasi yang kami dapatkan dari Pak petugas keamanan, kami pun segera bergegas menuju salah satu candi yang letaknya di sebelah Timur Laut Prambanan. Sebuah candi dengan corak Hindu-Budha, Candi Plaosan.

Selain kompleks percandian yang terbagi menjadi dua, Plaosan Lor dan Plaosan Kidul, Candi Plaosan juga memiliki corak dan cerita dari dua agama besar sebelum Islam masuk ke Indonesia, Hindu dan Budha. Dan yang paling penting selain viewnya bagus buat foto-foto, harga tiket masuknya juga bagus kok. ^_^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s